Di era 1990an, seseorang dipandang berhasil (keren) bilamana ia adalah lulusan luar negri & menjabat sebagai manager di perusahaan besar.

Tapi di era tahun 2000-an, makna “berhasil” mulai bergeser. Seseorang dipadang berhasil bila ia adalah seorang entrepreneur alias babat alas punya usaha sendiri.

Kebanyakan anak muda di Indonesia saat ini kalau ditanya apa cita-citanya, mayoritas menjawab pengen jadi entrepreneur. Dan cukup banyak entrepreneur muda yang berhasil dengan bisnisnya yang unik, mulai dari food, fashion, hingga creative industry seperti music, fotografi, dan masih banyak lagi.

Tapi tidak semua anak muda bisa tahan dengan mental pressure sebagai entrepreneur. Karena jadi entrepreneur, bukan hanya status keren jadi bos. Melainkan menjadi leader yang bijaksana untuk memimpin team & mengatasi masalah, deal with problems from A-Z, bersikap dewasa & berlapang dada untuk selalu mendahulukan kepentingan stakeholder; karyawan, supplier, dan yang terpenting customer baru kepentingan diri sendiri.

Saya adalah salah satu dari sekian orang bondho nekat yang pindah haluan dari eksekutif muda yang berkarir di perusahaan multinasional ke jalur entrepreneur dengan modal kerja keras, tabungan hasil kerja 3 tahun yang ga seberapa banyak, dan ilmu.

Tidak mengklaim diri sebagai entrepreneur sukses, tapi saya ingin sharing 6 key takeaways dari kacamata wirausaha junior yang baru berumur 2 tahun. (Yes, beauty startup yang saya bangun baru berulangtahun yang kedua 1 Desember kemarin!). Semoga bermanfaat 🙂

1. Respect

Iya donk. Sebagai pemula, kita harus bijak menempatkan diri & menghormati stakeholder dalam bisnis. Boleh berguru ke mentor bisnis yang sudah senior tapi ya jangan tanya A-Z yang seharusnya kita kerjakan sendiri. Do your homework. Tapi jangan sampai kita “diinjak” atau “dimanfaatin”oleh orang lain ya. Kalau sudah ada tanda-tanda negative dari partner yang akan bekerjasama, mending mundur dan cari partner lain yang satu visi & saling menghargai. Kalau uda terlanjur, ya sudah. Swallow the pain & get it done fast. Take it as lesson learned & watch your back.

2. Integrity

Jangan overpromise padahal tidak mampu melaksanakan. Ini bikin kamu harus stretch kapasitas gila-gilaan saat belum siap, merusak nama baik kalau gagal, dan boong sana sini. Kalau kamu menjanjikan sesuatu, ya harus ditepatin. Kalau tidak mampu memenuhi ekspektasi, don’t even promise. Karena itu akan merugikan orang lain yang percaya dengan deal yang dijanjikan. Mata uang yang berlaku di Game of Entrepreneurship adalah integritas.

3. Self-esteem

Don’t shy to admit your acknowledge! Kalau dapat award, tidak ada salahnya dipublikasikan di social media; misalnya “dipajang” di profile LinkedIN. Ini mempengaruhi brand image dari startup yang kamu bangun loh. Siapa tahu ada investor atau project potensial yang menghampiri karena terkesan dengan prestasi kamu sebagai entrepreneur.

4. Keep learning

Tetap belajar untuk catch up dengan perkembangan bisnis & strategi yang berubahnya cepet banget. Karena waktu makin sedikit sejak buka cabang BloBar, biasanya aku sempatkan baca-baca artikel online dari LinkedIN biar tetep update dengan strategi bisnis.

5. Networking

Koneksi yang tepat mutlak penting karena kita bisa bersinergi untuk mencapai mutual goals dengan efektif. Salah satu wadahnya adalah komunitas entrepreneur, professional, atau Venture Capital yang mendorong kita untuk mengembangkan start-up dengan lebih agresif. Di Linkedin, kita bisa menemukan mentor, business partner, investor, atau berbagai kesempatan bisnis lainnya asalkan gigih mencari dengan motivasi yang positif & attitude yang professional yaa.

#ConnectToGrow

6. Funding

Saat start-up bertumbuh dan mulai menghasilkan cash in, harus direncakanan bagaimana penghasilan tersebut akan dikembangkan? Jadi modal kerja? Atau dibagikan sebagai deviden? Atau diinvestasikan dalam bentuk asset lain? Ekspansi usaha?

Nah itu saja 6 Key Takeaways dari entrepreneur yang baru berusia 2 tahun. Please share your thought #ConnectToGrow