Memperingati hari Kartini di Indonesia, semua wanita diingatkan kembali pada makna “emansipasi wanita”. Tiba-tiba isu gender equality mencuat. Bahwa semua wanita punya kesempatan yang sama dengan laki-laki untuk mengejar karir & cita-cita. Bahwa wanita juga berhak berprestasi. Bahwa wanita berhak bekerja & mendapat penghasilan tinggi. Ga cuma tinggal di rumah, momong anak dan berada di bawah bayang-bayang suami.

A bit from my perspective.

Saya setuju banget dengan emansipasi wanita. Tapi wanita juga perlu menyadari haknya sebagai wanita yang harus dilindungi & diperjuangkan oleh pria. Kadang sebagai wanita modern, kita terlalu atau dikondisikan untuk self-concious, ambitious, driven, hard-worker, dan berinisiatif dalam banyak hal sampai-sampai tidak ada ruang bagi sang pria untuk melakukan tugasnya sebagai pria sejati. Atau memang si pria melempem aja. Alias memang ga mau berusaha & numpang hidupnya ke si wanita. Eaaa*

Dan juga tersirat ekspektasi terhadap wanita itu kelewatan walau katanya ini bukan zaman Siti Nurbaya.

Syarat jadi wanita seutuhnya di 2017 – old school society implicit rule of game :

  1. Punya titel pendidikan yang tinggi. S1 uda mainstream. jadi disarankan S2 supaya menghindari nyinyiran kanan kiri. Kalau bisa lulusan universitas papan atas atau luar negri untuk mendongkrak gengsi.
  2. Kudu bisa masak, nyuci, ngurus rumah dengan apik. Thanks to GoJek for GoClean & GoFood for saving our lives!
  3. Menikah sebelum usia 30. Karena kalau uda lewat 30 katanya susah punya anak. Ini sih ga logis. Ga bisa punya anak belum tentu karena si wanita yang sudah tidak subur, bisa jadi kekurangan ada di pria atau memang belum dikasih rejeki anak oleh Tuhan. Atau katanya uda kelewat tua alias jadi perawan tua. Sumpah ini sih jahat banget. Kenapa wanita harus nikah di bawah usia 30 sedangkan pria usia 30 masih single tidak jadi masalah? Bukan ga mau settle down tapi nyari pria sejati yang baik di 2017 itu kayak cari jarum di tumpukan jerami loh. Uda ketemu pun belum tentu langsung cocok, perlu tune in & kompromi ini itu.
  4. Punya keturunan. Punya 1 anak pun tak cukup. Akan sering ditanya kapan punya anak kedua supaya si kakak ga kesepian, ada temen main. Dikira sekolah anak murah kali ya….
  5. Mandiri alias bekerja & punya penghasilan sendiri. Kalau bisa kerjanya di perusahan yang ok atau jadi entrepreneur yang usahanya hits.
  6. Melayani suami.
  7. Berbakti pada orang tua & mertua.
  8. Dst

Terus tugas si pria apa ya….?

Saya setuju sebagai Kartini modern, kita harus mengapresiasi emansipasi wanita dengan mengejar cita-cita & menjadi the best version of ourselves. Tapi untuk urusan domestik, pria tetap harus bertanggungjawab untuk melakukan kewajibannya untuk memperjuangkan, menafkahi, serta memberikan kenyamanan & keamanan bagi sang wanita.

Make your dreams come true. But don’t forget to live balance. Take care of yourself. Let the man appreciate & fight for you. Don’t let your voice drown by society old game rule. Raise your standard & universe will meet you there.

In collaboration with Eesome for Bobobobo & Peoplesnaps