Pagi itu, Mbaru Niang yang kami huni mulai diterangi oleh cahaya matahari yang menerobos melalui lubang kecil yang berfungsi sebagai jendela. Badan jadi terbangun secara biologis walau mata masih berat dan kaki pegal-pegal.

Aku bergegas merapikan diri & segera bergabung bersama yang lainnya untuk menikmati keindahan pagi Wae Rebo.

img_6073

Amboiiiiii. Indah banget pemandangannyaaaa!

Perjalanan  yang melelahkan kemarin terbayar sudah saat berada di kampung di atas awan yang terkenal ini.

Processed with Snapseed.

img_6904
Travel Junkie dan salah satu tetua Wae Rebo

img_6443

Puas menikmati pemandangan yang breathtaking, kami bermain bersama anak-anak Wae Rebo yang gemes-gemes.

fullsizerender-47

Kami membagikan buku cerita, alat tulis & mainan lucu.

Alhasil, kami dikeroyok anak-anak kecil yang super enerjik ini.

Processed with Snapseed.

Processed with Snapseed.
Menikmati biskuit

Senangnya bisa berbagi dengan anak-anak ini. Melihat senyuman di wajah mereka yang polos, saya jadi terenyuh. Di ibu kota Jakarta, sebuah buku tidak berarti banyak. Malah mungkin dibuang-buang. Namun di desa terpelosok di negri ini, buku inilah yang menjadi jendela dunia mereka, akses yang menghubungkan mereka dengan dunia modern di luar sana.

Next goal: bolang ke pedalaman untuk ngajar & berbagi ke anak-anak. Aminnn!

Processed with Snapseed.
Sispai dan anak-anak Wae Rebo
fullsizerender-37
Para tetua pun ikut bermain puzzle

Wae Rebo mengandalkan penghasilan dari kain tenun & kopi yang terkenal kualitasnya.

Kopi Wae Rebo ditanam secara organik & masih diolah secara tradisional loh. Rasanya jangan ditanya. Harummmm banget!

img_6905

Processed with Snapseed.
Cikal bakal kopi nikmat
Processed with Snapseed.
Menikmati kopi Wae Rebo yang nikmat

Meraih penghargaan dari UNESCO, Wae Rebo terkenal dengan konstruksi rumah Mbaru Niang-nya yang unik banget! Terbuat dari bambu, dedaunan, dan kayu, Mbaru Niang mampu menampung 7-8 keluarga kecil di dalamnya & melindungi dari panas & hujan.

img_6285

fullsizerender-35

img_6294

img_6081
Peta menuju Wae Rebo
img_6082
Konstruksi Mbaru Niang
fullsizerender-28
Dapur tradisional

Sore menjelang dan kami kedatangan tamu yang ditunggu-tunggu, yaitu crew & host acara My Trip My Adventure (MTMA) yang mempersiapkan tayangan ulang tahun ketiga acara MTMA.

Processed with Snapseed.
Richard Kyle, me, David Schapp
img_6397
Me, Putri Marino, Imelda
img_6382
All team

14449810_1690861324574418_2982540535682787677_n

Proses syuting pun berjalan lancar di bawah arahan produser Chris Hutanijaya yang piawai mengatur crew & mengkomando pengambilan gambar. Kami juga sering tertawa terbahak-bahak karena host Denny Sumargo yang sangat kocak – berkebalikan dengan raut wajahnya yang serius.

img_6303

Proses syuting selesai & kami rehat. Tak lama, kabut menyelimuti desa kecil ini & udara mulai terasa dingin. Kemudian hujan deras membasahi bumi Wae Rebo.

img_6217
Tempat sakral Wae Rebo yang tidak boleh dimasuki

img_6265

Di dalam Mbaru Niang, kami menghangatkan diri & bersiap-siap untuk pendakian turun. Karena besok kami akan melanjutkan perjalanan ke Labuan Bajo – islands hopping.

img_6326

img_6325

img_6322

Alhasil, kami hujan-hujanan!

14433034_1690861367907747_7281590393623147496_n

14432991_1690861361241081_7954265254393634466_n

Pendakian turun waktu itu memakan waktu lebih lama yaitu 6.5 jam karena hujan deras yang konsisten.  Medan perjalanan menjadi sangat berat karena tanah yang kami pijak berlumpur & berbatu licin. Sepatu  yang kami kenakan sudah basah total di menit-menit awal kami meninggalkan Wae Rebo.

Pendakian kali ini tidak se-asyik saat berangkat. Tidak ada musik EDM yang menemani, pandangan kami terhalang air hujan yang deras, dan lambat laun kami terpecah dalam 3 grup kecil. Hanya satu hal yang ada di benakku: cepet jalan, cepet sampe, cepet istirahat!

Malam mulai menggantung & kegelapan kembali menyelimuti hutan. Menurutku yang paling serem adalah menyeberangi 1 air terjun, 1 kali & 2 jembatan gantung dengan titian yang sempit & tinggi. Meleset dikit bakal jatuh ke arus air yang kencang. Namanya juga My Trip My Adventure. Harus ada adrenaline rush yak. Hehehe

Satu demi satu pos terlewati dan kami mencapai titik nol pendakian.

Sayangnya, Imel jadi korban di post terakhir: jatuh di selokan yang airnya deras. Untungnya, Sadewa tanggap menangkap Imel sehingga tidak terbawa arus air yang deras.

Malam itu, kami istirahat di Wae Rebo Lodge, Denge untuk mandi & mengisi perut. Kemudian, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Labuan Bajo dengan mobil ELF.

Highlight of Wae Rebo Part 2

I met cool friends during Wae Rebo trip & they write cool blog about our trip. Check it out!

Om Ariev

Om Bowie

Erna Petite

Akhir kata, selamat ulang tahun yang ketiga untuk semua crew My Trip My Adventure. Semoga menjadi tayangan yang makin baik, mendidik & mengangkat pesona Indonesia! Stay awesome!